Belajar Bahasa Arab: Sejarah Bangsa Arab (Bagian Satu)

Catatan Si Zee: Sharing Bahasa Arab (SHABAR).


sharing bahasa arab (shabar)
sharing bahasa arab
Belajar Bahasa Arab: Sejarah Bangsa Arab (Bagian Satu) - Selain mengetahui tentang sejarah perkembangan bahasa arab bagian 1, bagian 2, dan bagian 3, kita juga perlu mengetahui tentang sejarah bangsa arab. Artikel ini juga ditulis oleh Bapak Asep M. Tamam, S.Ag.,M.Ag.

Saya bagi menjadi tiga bagian juga:
  1. Belajar Bahasa Arab: Sejarah Bangsa Arab (Bagian Satu)
  2. Belajar Bahasa Arab: Sejarah Bangsa Arab (Bagian Dua)
  3. Belajar Bahasa Arab: Sejarah Bangsa Arab (Bagian Tiga)  
SEJARAH BANGSA ARAB
Oleh:  Asep M. Tamam, S.Ag.,M.Ag*

Belajar Bahasa Arab, Sejarah Bangsa Arab
sejarah bangsa arab
Bangsa Arab memiliki akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk ras atau suku Caucasoid dalam sub ras mediterranean yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabia dan Irania. Bangsa Arab hidup berpindah-pindah, karena tanahnya terdiri dari gurun pasir yang kering dan sedikit sekali turun hujan. Perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat lain itu mengikuti tumbuhnya stepa atau padang rumput yang tumbuh secara sporadis di tanah Arab di sekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan. Bangsa Arab mendiami wilayah Jazirah Arabia yang sangat kering dan panas karena uap air laut yang ada disekitarnya (Laut Merah, Laut Hindia dan Laut Arab) tidak bisa memenuhi kebutuhan untuk mendinginkan daratan luas yang berbatu itu. 

Jazirah Arab sendiri bentuknya memanjang. Ke sebelah utara Palestina dan Padang Syam, ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furats (Eupharates) dan teluk Persia, ke sebelah selatan Samudra Hindia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari sebelah utara padang Sahara dan teluk Persia. Panjang semenanjung ini melebihi seribu kilometer, demikian pula luasnya sampai seribu kilometer pula. 

Dalam daerah yang seluas itu sebuah sungai pun tidak ada, musim hujan yang akan dapat dijadikan pegangan dalam mengatur sesuatu usaha juga tidak menentu, kecuali daerah Yaman yang terletak di sebelah selatan yang sangat subur tanahnya dan cukup banyak hujan turun. Wilayah Arab lainnya terdiri dari gunung-gunung, dataran tinggi, lembah-lembah yang tandus dan alam yang gersang. Bangsa Arab terdiri dari berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh Jazirah Arab. Mereka kebanyakan mendiami wilayah pinggir Jazirah dan sedikit yang tinggal di pedalaman. Wilayah Arab terbagi menjadi beberapa propinsi seperti propinsi Hijaz, Najd, Yaman, Hadramaut dan Oman.

Secara umum, mereka terbagi dari dua keturunan; Qahthan dan Adnan. Qahthan semula berdiam di Yaman, namun setelah hancurnya bendungan Marib sebelum tahun 120 SM, mereka kemudian bermigrasi ke utara, sedangkan Adnan adalah keturunan Ismail bin Ibrahim yang banyak mendiami kawasan Hijaz. Bangsa Arab pernah mendirikan kerajaan, di antaranya ialah Saba, Main, dan Himyar yang semuanya di Yaman. Di utara Jazirah juga pernah bediri kerajaan Hirah dan Gassan. Hijaz sendiri menunjukkan wilayah yang tetap merdeka sejak dahulu karena miskin daerahnya. 

Namun demikian di Hijaz terdapat tempat suci Mekah. Yang di dalamnya berdiri kabah yang sudah ada sejak Nabi Ismail. Di kawasan Hijaz juga terdapat Yatsrib yang pada zaman Nabi berganti nama menjadi Madinah. Makkah selalu ramai didatangi para peziarah haji pada bulan-bulan haji. Sudah ada pengaturan kekuasaan di Makkah sejak dahulu, suku Amaliqah adalah yang berkuasa di sana sebelum lahirnya ismail. Kemudian datang suku Jurhum ke Mekah dan menggeser kedudukan Amaliqah. Ketika Jurhum berkuasa itu Ismail sudah dewasa dan lalu kawin dengan anggota suku tersebut. 

Lama suku Jurhum menguasai Mekah yang nantinya diganti oleh suku Khuzaah pada tahun 207 SM dan akhirnya Khuzaah digeser oleh Quraisy kira-kira tahun 440 M di bawah pimpinan Qushai. Qushai adalah pemimpin Mekah yang membuat institusi pengaturan kota termasuk Kabah. Institusi-institusi itu di antaranya Nadwa (lembaga perkotaan), Mashura (dewan nasihat), Qiyada (Kepemimpinan), Sadana (administrasi kota suci), Hijaba (pemeliharaan kabah), Ifada (mereka yang berhak memberi izin pada orang pertama yang melangkah dalam acara perayaan), Ijaza Nasi (institut penyesuaian kalender), Qubba (membuat tanda mengumpulkan sumbangan bagi mengatasi keadaan darurat), AInna (pemegang kendali kida), Rafada (pajak untuk membantu para jemaah haji yang miskin), Amwal Muhajjara (sedekah untuk kesucian), Aysar Ahnaq (pembuat perkiraan pertanggungjawaban keuangan), Hukuma (pemerintah), Sifarah (kedutaan), Uqais (penentuan standar), Liwa (panji) dan Hulwan al-Nafar (mobilisasi kesejahteraan). 

Qushai meninggal dunia tahun 480 m dan diganti oleh anaknya, Abdud Dar. Tetapi sepeninggal Abdud Dar terjadi perselisihan di antara cucu-cucu Qusai dan anak-anak saudaranya, Abdul Manaf, mengenai siapakah yang berhak mewarisi kekuasaan atas Makkah. Pertentangan itu diselesaikan dengan membagi kekuasaan, yakni pengaturan air dan pajak atas Makkah diserahkan kepada Abdus Syam, penjagaan kabah diserahkan kepada cucu-cucu Abdud Dar sedangkan Abdus Syam menyerahkan lagi urusannya kepada saudaranya yang bernama Hasyim. Tetapi anak Abdus Abdus Syam, Umaiyah berlaku sombong, memusuhi pamannya sendiri, Hasyim. Urusan-urusan itu akhirnya dipegang oleh anak Hasyim, Abdul Mutalib, kakek Nabi SAW. Ia merupakan orang yang terhormat, bijaksana dalam memegang tampuk pemerintah atas Mekah sehingga dapat bertahan sampai 59 tahun memerintah kota itu, ia mempunyai banyak anak, dan di antara anak-anaknya itu ialah Abdullah, ayah Muhammad SAW. 

Lanjut ke:
Belajar Bahasa Arab: Sejarah Bangsa Arab (Bagian Dua)



 
Previous
Next Post »