Catatan Si Zee: Motivasi Menulis
Tidak semua orang mampu menulis. Maksudnya tidak semua orang mampu menghasilkan karya tulis. Sebab bakat menulis itu milik orang tertentu saja. Habiburrahman El Shirazy dengan salah satu karyanya Ayat-Ayat Cinta yang begitu booming. Andrea Hirata dengan karya tetraloginya (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov) yang begitu memukau. Atau seri Harry Potter-nya JK Rowling yang penuh dengan imajinasi tinggi. Mereka merupakan segelintir dari sekian banyak penulis luar biasa yang ‘diberkati’ segudang ide dan daya imajinasi tinggi. Lantas dituangkan dalam bentuk tulisan sehingga melahirkan karya tulis yang luar biasa. Dengan kata lain karya tulis lahir dari pemikiran orang berbakat seperti mereka. Jadi, bakat menulis itu milik orang tertentu saja.
Pada dasarnya untuk menjadi penulis, bakat bukan merupakan sebuah acuan. Melainkan kemauan untuk belajar menulis itu sendiri yang lebih utama. Tentunya dengan dibarengi latihan yang kontinyu. Dengan begitu, seseorang lebih memahami bahwa dirinya mampu menulis, menghasilkan karya tulis dan menyadari bahwa ia memiliki bakat menulis.
Kenyataan itu memberi dampak besar terhadap pola fikir saya terkait bakat menulis. Pessimistis mulai memudar secara perlahan. Semangat menulis pun semakin bertambah dalam diri saya yang pada awalnya merasa sebagai orang yang tidak memiliki bakat menulis.
Rs. Rudatan dalam bukunya Menjadi Kaya dengan Menulis mengatakan: “Jika mau jadi penulis jangan peduli dengan siapa pun yang Anda anggap hebat. Biarkan orang-orang hebat itu dengan kehebatannya sendiri. Apa hubungan kehebatan mereka dengan anda? Tidak Ada! Sekalipun mereka sahabat Anda, tetapi tidak ada hubungan sedikit pun dalam urusan bakat atau tidak berbakat. Yang penting untuk Anda lakukan adalah menulis dan menulis, kemudian menulis dan menulis lagi. Lupakan orang-orang yang anda anggap hebat itu. Anda urusi saja diri Anda sendiri, tidak peduli Anda punya bakat atau tidak. Dalam waktu singkat anda akan menjadi penulis yang produktif.”
Ismail Kusmayadi dalam bukunya Menulis dengan Hati Membangun Motivasi Menulis, menanggapi kata ‘produktif’ yang dikemukakan Rs. Rudatan. Dia mengatakan bahwa produktif menulis berarti banyak menghasilkan tulisan. Tulisan yang dihasilkan akan banyak jika terus menulis. Menulis harus dijadikan sebagai hobi yang menyenangkan atau bahkan sebagai kebutuhan. Dengan begitu kita akan menjadi penulis yang produktif.
Belajar menulis memang tidaklah mudah. Namun juga tidak terlalu sulit. Perlu kesungguhan dan tidak mudah berputus asa. Jadilah orang yang pantang menyerah.
Sebagai catatan penting, dalam prosesnya kepekaan seseorang dalam merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf yang akhirnya menjadi sebuah hasil karya, itu sangatlah variatif. Ada yang melakukannya dengan mudah, namun banyak juga yang harus bersusah payah yang biasanya menimbulkan keputusasaan dan akhirnya menganggap dirinya tidak berbakat.
Saya katakan: “Jernihkan fikiran anda. Mulailah menulis, menulis dan terus menulis!”
Saya yakin antara yang mudah dan yang harus bersusah payah itu pada intinya sama saja. Faktor kesungguhan dalam menjalani proses adalah kuncinya. Pisau tumpul yang tidak layak mengiris bawang pun bisa menjadi layak jika diasah. Begitupun dengan skill menulis, jika terus dilatih niscaya akan menghasilkan tulisan yang luar biasa. Karena sebuah skill tidak terlepas dari kebutuhan untuk dikembangkan dan dilatih.
So, masih ragukah untuk menulis? Fikirkan, tuangkan, dan nikmatilah! :)
Oleh: Fauzi Zee
Tidak semua orang mampu menulis. Maksudnya tidak semua orang mampu menghasilkan karya tulis. Sebab bakat menulis itu milik orang tertentu saja. Habiburrahman El Shirazy dengan salah satu karyanya Ayat-Ayat Cinta yang begitu booming. Andrea Hirata dengan karya tetraloginya (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov) yang begitu memukau. Atau seri Harry Potter-nya JK Rowling yang penuh dengan imajinasi tinggi. Mereka merupakan segelintir dari sekian banyak penulis luar biasa yang ‘diberkati’ segudang ide dan daya imajinasi tinggi. Lantas dituangkan dalam bentuk tulisan sehingga melahirkan karya tulis yang luar biasa. Dengan kata lain karya tulis lahir dari pemikiran orang berbakat seperti mereka. Jadi, bakat menulis itu milik orang tertentu saja.
Namun ternyata asumsi saya salah besar. Yang benar adalah BAKAT MENULIS ITU MILIK SIAPA SAJA. Ya, SEMUA ORANG BERBAKAT MENULIS. Tidak memandang jenis kelamin, ras, budaya maupun agama.
Kenyataan itu memberi dampak besar terhadap pola fikir saya terkait bakat menulis. Pessimistis mulai memudar secara perlahan. Semangat menulis pun semakin bertambah dalam diri saya yang pada awalnya merasa sebagai orang yang tidak memiliki bakat menulis.
Rs. Rudatan dalam bukunya Menjadi Kaya dengan Menulis mengatakan: “Jika mau jadi penulis jangan peduli dengan siapa pun yang Anda anggap hebat. Biarkan orang-orang hebat itu dengan kehebatannya sendiri. Apa hubungan kehebatan mereka dengan anda? Tidak Ada! Sekalipun mereka sahabat Anda, tetapi tidak ada hubungan sedikit pun dalam urusan bakat atau tidak berbakat. Yang penting untuk Anda lakukan adalah menulis dan menulis, kemudian menulis dan menulis lagi. Lupakan orang-orang yang anda anggap hebat itu. Anda urusi saja diri Anda sendiri, tidak peduli Anda punya bakat atau tidak. Dalam waktu singkat anda akan menjadi penulis yang produktif.”
Ismail Kusmayadi dalam bukunya Menulis dengan Hati Membangun Motivasi Menulis, menanggapi kata ‘produktif’ yang dikemukakan Rs. Rudatan. Dia mengatakan bahwa produktif menulis berarti banyak menghasilkan tulisan. Tulisan yang dihasilkan akan banyak jika terus menulis. Menulis harus dijadikan sebagai hobi yang menyenangkan atau bahkan sebagai kebutuhan. Dengan begitu kita akan menjadi penulis yang produktif.
Belajar menulis memang tidaklah mudah. Namun juga tidak terlalu sulit. Perlu kesungguhan dan tidak mudah berputus asa. Jadilah orang yang pantang menyerah.
Sebagai catatan penting, dalam prosesnya kepekaan seseorang dalam merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf yang akhirnya menjadi sebuah hasil karya, itu sangatlah variatif. Ada yang melakukannya dengan mudah, namun banyak juga yang harus bersusah payah yang biasanya menimbulkan keputusasaan dan akhirnya menganggap dirinya tidak berbakat.
Saya katakan: “Jernihkan fikiran anda. Mulailah menulis, menulis dan terus menulis!”
Saya yakin antara yang mudah dan yang harus bersusah payah itu pada intinya sama saja. Faktor kesungguhan dalam menjalani proses adalah kuncinya. Pisau tumpul yang tidak layak mengiris bawang pun bisa menjadi layak jika diasah. Begitupun dengan skill menulis, jika terus dilatih niscaya akan menghasilkan tulisan yang luar biasa. Karena sebuah skill tidak terlepas dari kebutuhan untuk dikembangkan dan dilatih.
So, masih ragukah untuk menulis? Fikirkan, tuangkan, dan nikmatilah! :)

