Catatan Si Zee: Sharing Bahasa Arab (SHABAR).
Belajar Bahasa Arab: Sejarah Perkembangan Bahasa Arab (Bagian Dua) - Sejarah perkembangan bahasa arab bagian dua, membahas tentang Perkembangan Bahasa Arab pada Zaman Bani Umayah. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikelnya dibawah ini.
![]() |
| Sharing Bahasa Arab |
Pada masa kekuasaaan Bani Umayah, terjadilah perubahan sosial yang sangat dramatis dalam tubuh masyarakat Islam. Orang-orang Arab (pendatang) mulai berasimilasi dan bersosialisasi dengan pribumi karena kelompok sosial ini semakin hari semakin bercampur. Pada saat yang bersamaan, penduduk asli (pribumi) pun kemudian merasa butuh dan berkepentingan untuk mempelajari bahasa Arab. Alasan mereka setidaknya untuk dapat saling mengerti dan memahami dalam komunikasi dengan orang-orang Arab yang bahasanya masih asing bagi mereka. Maka, terbentuklah persatuan dua kelompok yang masing-masing memiliki perbedaan bahasa, budaya dan kelas sosial.
Penduduk Mesir yang tadinya berbahasa koptik Mesir, mulai mempelajari --secara langsung-- bahasa Arab. Demikian juga penduduk Syam dan sebagian Irak yang berbicara dengan bahasa Aramia, penduduk Maroko dan Afrika Utara yang menggunakan bahasa Barbar, penduduk Iran dan sebagian Irak yang menggunakan bahasa Iran (persi), semua mengalami masa-masa terjadinya sosialisasi bahasa Arab. Pada saat itu, berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa Arab yang fasih ( Arab standar) menunjukkan ketinggian martabat sosial dan kelas tersendiri di masyarakat. Oleh karenanya, kalangan pejabat dan penguasa pada saat itu berkepentingan mendidik keturunan mereka dengan bahasa yang memungkinkan mereka mudah meraih kursi kekuasaan. Tidak cukup dengan itu, mereka pun mengirim anak-anak dan generasi-generasi mereka ke wilayah yang dihuni masyarakat Badui di Hijaz. Anak-anak mereka sengaja dikirim ke Badui untuk mempelajari dan mendalami bahasa Arab yang masih bersih. Maka jelaslah, bahwa sejak sepertiga akhir abad pertama Hijriyah, bahasa Arab sudah mencapai dan menduduki posisi sedemikian tinggi, terhormat dan sangat kuat di wilayah-wilayah yang menjadikan Islam sebagai agama resmi.
Penduduk Mesir yang tadinya berbahasa koptik Mesir, mulai mempelajari --secara langsung-- bahasa Arab. Demikian juga penduduk Syam dan sebagian Irak yang berbicara dengan bahasa Aramia, penduduk Maroko dan Afrika Utara yang menggunakan bahasa Barbar, penduduk Iran dan sebagian Irak yang menggunakan bahasa Iran (persi), semua mengalami masa-masa terjadinya sosialisasi bahasa Arab. Pada saat itu, berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa Arab yang fasih ( Arab standar) menunjukkan ketinggian martabat sosial dan kelas tersendiri di masyarakat. Oleh karenanya, kalangan pejabat dan penguasa pada saat itu berkepentingan mendidik keturunan mereka dengan bahasa yang memungkinkan mereka mudah meraih kursi kekuasaan. Tidak cukup dengan itu, mereka pun mengirim anak-anak dan generasi-generasi mereka ke wilayah yang dihuni masyarakat Badui di Hijaz. Anak-anak mereka sengaja dikirim ke Badui untuk mempelajari dan mendalami bahasa Arab yang masih bersih. Maka jelaslah, bahwa sejak sepertiga akhir abad pertama Hijriyah, bahasa Arab sudah mencapai dan menduduki posisi sedemikian tinggi, terhormat dan sangat kuat di wilayah-wilayah yang menjadikan Islam sebagai agama resmi.
Pada masa Daulah Umayah inilah proses "Arabisasi" berjalan lancar melalui penyebaran Islam. Pada masa ini pula ditata rapi administrasi professional dan dengan sendirinya bahasa Arab menjadi bahasa resmi Negara Islam. Orang-orang pribumi yang ingin bekerja di pemerintahan disyaratkan untuk fasih berbahasa Arab, dan ini merupakan langkah positif yang cukup massif.
Tapi satu hal yang tidak bisa dilewatkan, adalah bahwa antusiasme mereka mempelajari bahasa Arab adalah karena dorongan agama. Islam yang baru saja mereka peluk, secara tidak memaksa memotivasi mereka untuk mendalami al-Quran dan hadits yang berbahasa Arab. Dalam tingkat perkembangan selanjutnya, bahasa Arab memasuki masa-masa pertarungan yang sangat sulit dengan bahasa-bahasa asli yang sudah hadir di daerah-daerah yang memeluk Islam itu. Pertarungan itu berlangsung lama dan tidak selesai dalam satu generasi. Setelah hampir dua abad berlangsung, bahasa Arab menghirup udara tenang karena ia sudah menjadi bahasa dominan di seluruh pelosok daerah yang sudah dimasuki bahasa Arab.
Beberapa abad setelah itu, pertarungan pun berakhir, bahasa Arab berhasil mendesak, bahkan menggantikan bahasa Persia, Aramia, Barbar, Yunani, Koptik di negeri-negeri yang ditaklukan oleh Islam. Namun demikian, perkembangan ini tidak berjalan mulus. Percampuran yang tidak terbendung dari dua kelompok (pendatang dan pribumi) ini tidak bisa menghindarkan perkawinan di antara anggota kelompok yang berbeda ini. Generasi-generasi yang lahir dari perkawinan ini ternyata kurang menguasai bahasa Arab dengan baik. Hal ini ditambah dengan mengendurnya semangat berbahasa Arab di lingkungan keluarga pejabat/penguasa. Hal inilah yang kemudian mengundang keprihatinan tokoh-tokoh intelektual muda untuk melakukan gerakan pemurnian bahasa Arab. Tokoh-tokoh intelektual muda itu merupakan kolaborasi Arab-Non Arab. Salah satu peran besar yang diukir pemerintahan Bani Umayyah, lewat gerakan ini adalah penggunaan bahasa Arab sebagai media bahasa karang mengarang (karya tulis). Banyak buku-buku berkualitas tinggi dengan kedalaman ilmu yang luar biasa berhasil diterbitkan pada masa itu. Padahal, sebelum Bani Umayah berkuasa, bahasa Arab hanya digunakan sebatas untuk syair dan peribahasa (Amtsal) selain dalam al-Quran.
Ibnu Muqaffa, (wafat 142 H) adalah salah seorang ulama terkemuka yang termasuk pertama kali menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa karang mengarang dalam buku-buku yang ia tulis. Dengan demikian, penggunaan bahasa Arab memasuki babak baru, yakni dunia pustaka karena bahasa Arab tidak lagi hanya sebatas bahasa syair.
Tapi satu hal yang tidak bisa dilewatkan, adalah bahwa antusiasme mereka mempelajari bahasa Arab adalah karena dorongan agama. Islam yang baru saja mereka peluk, secara tidak memaksa memotivasi mereka untuk mendalami al-Quran dan hadits yang berbahasa Arab. Dalam tingkat perkembangan selanjutnya, bahasa Arab memasuki masa-masa pertarungan yang sangat sulit dengan bahasa-bahasa asli yang sudah hadir di daerah-daerah yang memeluk Islam itu. Pertarungan itu berlangsung lama dan tidak selesai dalam satu generasi. Setelah hampir dua abad berlangsung, bahasa Arab menghirup udara tenang karena ia sudah menjadi bahasa dominan di seluruh pelosok daerah yang sudah dimasuki bahasa Arab.
Beberapa abad setelah itu, pertarungan pun berakhir, bahasa Arab berhasil mendesak, bahkan menggantikan bahasa Persia, Aramia, Barbar, Yunani, Koptik di negeri-negeri yang ditaklukan oleh Islam. Namun demikian, perkembangan ini tidak berjalan mulus. Percampuran yang tidak terbendung dari dua kelompok (pendatang dan pribumi) ini tidak bisa menghindarkan perkawinan di antara anggota kelompok yang berbeda ini. Generasi-generasi yang lahir dari perkawinan ini ternyata kurang menguasai bahasa Arab dengan baik. Hal ini ditambah dengan mengendurnya semangat berbahasa Arab di lingkungan keluarga pejabat/penguasa. Hal inilah yang kemudian mengundang keprihatinan tokoh-tokoh intelektual muda untuk melakukan gerakan pemurnian bahasa Arab. Tokoh-tokoh intelektual muda itu merupakan kolaborasi Arab-Non Arab. Salah satu peran besar yang diukir pemerintahan Bani Umayyah, lewat gerakan ini adalah penggunaan bahasa Arab sebagai media bahasa karang mengarang (karya tulis). Banyak buku-buku berkualitas tinggi dengan kedalaman ilmu yang luar biasa berhasil diterbitkan pada masa itu. Padahal, sebelum Bani Umayah berkuasa, bahasa Arab hanya digunakan sebatas untuk syair dan peribahasa (Amtsal) selain dalam al-Quran.
Ibnu Muqaffa, (wafat 142 H) adalah salah seorang ulama terkemuka yang termasuk pertama kali menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa karang mengarang dalam buku-buku yang ia tulis. Dengan demikian, penggunaan bahasa Arab memasuki babak baru, yakni dunia pustaka karena bahasa Arab tidak lagi hanya sebatas bahasa syair.
Bidang ilmu lainnya yang lahir, tumbuh dan berkembang pada masa Daulah Umayyah adalah ilmu Arudh yang dibadani oleh Khalil bin Ahmad, di tangan beliaulah lahir wazan-wazan syair Arab semisal, Thawil, Khofif, Rajaz, Basith, Kamil dan lain-lain. Dalam hal ini ilmu semantik yang menjadi bagian ilmu bahasa mulai berkembang.
Lanjut ke:
Belajar Bahasa Arab: Sejarah Perkembangan Bahasa Arab (Bagian Tiga)
Lanjut ke:
Belajar Bahasa Arab: Sejarah Perkembangan Bahasa Arab (Bagian Tiga)


